Poso, Reporternews.web.id
Tim gabungan masih terus melakukan pencarian terhadap seorang warga Desa Doda, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso, yang diduga hanyut terseret arus deras Sungai Lairiang di wilayah Wosule. Pencarian hari pertama dilaksanakan pada Senin (15/6/2026) sekitar pukul 08.00 Wiya dengan melibatkan Basarnas, Polri, dan masyarakat setempat.
Korban diketahui bernama Gito Aprianto Lage (31), warga asli Desa Doda yang saat ini berdomisili di BTN Citra Alam 3 Blok C, Tondo, Marawola, Kota Palu. Korban dilaporkan hilang sejak Sabtu (13/6/2026) saat menyeberangi Sungai Lairiang bersama dua rekannya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban berangkat dari Desa Doda menuju kawasan aliran Sungai Lairiang di Wosule pada Jumat (12/6/2026) bersama Adi Woiya dan Nosel Arianto Lage. Karena perjalanan menuju lokasi cukup jauh dan medan yang sulit, ketiganya bermalam di perjalanan sebelum tiba di lokasi pada Sabtu pagi.
Setibanya di lokasi, mereka berencana menyeberangi sungai menggunakan bantuan tali. Adi Woiya terlebih dahulu berenang ke seberang sambil membawa tali yang akan digunakan sebagai pegangan. Sementara itu, Gito dan Nosel bertugas mengikat serta menahan tali dari sisi sungai tempat mereka berada.
Namun, karena proses penarikan tali hanya dilakukan oleh satu orang, Gito memutuskan ikut berenang menyeberang untuk membantu rekannya. Saat hampir mencapai tepian seberang dan tinggal berjarak sekitar tiga meter, korban diduga kehabisan tenaga lalu terseret arus dan masuk ke pusaran air sungai.
Rekan korban sempat melihat Gito mengangkat tangan meminta pertolongan. Adi Woiya berusaha memberikan bantuan, namun kondisi arus yang sangat deras membuat upaya penyelamatan sulit dilakukan. Korban sempat memegang tangan Adi sehingga keduanya kehilangan keseimbangan di tengah arus.
Beruntung, jari Adi tersangkut pada tali yang masih dipegang kuat oleh Nosel di sisi sungai lainnya sehingga dirinya berhasil selamat. Sementara itu, Gito terus terbawa arus deras Sungai Lairiang.
Kemudian adi berusaha mengejar korban dengan menyusuri tepian sungai. Dalam pengejaran tersebut, korban masih sempat terlihat berada di bawah arus sambil melambaikan tangan.
Namun hingga sore hari korban tidak lagi terlihat. Kondisi medan yang berat serta minimnya pencahayaan membuat pencarian terpaksa dihentikan sementara.
Kedua rekan korban baru berhasil mendapatkan sinyal telepon sekitar pukul 03.00 Wita keesokan harinya langsung segera menghubungi pihak keluarganya serta pemerintah desa untuk melaporkan kejadian tersebut.
Pencarian hari pertama dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari Basarnas Provinsi Sulawesi Tengah, personel Polsek Lore Tengah, Bhabinkamtibmas Desa Doda, serta masyarakat setempat. Area pencarian difokuskan dari titik awal korban hilang di Wosule hingga menyusuri aliran Sungai Lairiang ke arah wilayah Kecamatan Lore Selatan.
Kapolsek Lore Tengah, IPDA Alexandro Herlambang, mengatakan pihaknya terus berupaya maksimal bersama seluruh unsur yang terlibat untuk menemukan korban.
“Pencarian terus kami lakukan dengan mengerahkan anggota bersama tim Basarnas dan warga. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pemerintah desa dan keluarga korban untuk memantau perkembangan. Medan yang berat dan arus sungai yang kuat menjadi tantangan utama, namun kami akan terus berupaya maksimal hingga hasil yang diharapkan ditemukan,” ujar Kapolsek.
Diketahui, korban sebelumnya pernah menyeberangi sungai tersebut saat berkunjung ke Desa Doda. Namun derasnya arus Sungai Lairiang saat kejadian diduga menjadi faktor utama yang menyebabkan korban tidak mampu bertahan ketika berada di tengah sungai.
Hingga berita ini diterbitkan, proses pencarian masih terus berlangsung dan tim gabungan secara berkala melaporkan perkembangan situasi kepada pimpinan serta keluarga korban.
Tim berharap korban dapat segera ditemukan sehingga memberikan kepastian bagi pihak keluarga yang saat ini masih menunggu kabar dari lokasi pencarian.







