Lutim,Reporternews.web.id
Gelombang kekecewaan kembali dirasakan petani plasma setelah PTPN IV Regional 2 unit PKS Luwu kembali menghentikan penerimaan buah sawit milik masyarakat. Keputusan tersebut memicu kemarahan warga karena dinilai terus berulang tanpa adanya solusi yang jelas dari pihak perusahaan.
Masyarakat mengaku dirugikan besar akibat buah sawit yang telah dipanen kini tertahan dan terancam membusuk. Di tengah biaya perawatan kebun yang tinggi serta kebutuhan hidup yang semakin berat, petani justru harus menghadapi kenyataan pahit karena hasil panen mereka tidak diterima.
Pihak perusahaan disebut berdalih bahwa tangki timbun CPO penuh dan restan TBS di pabrik sudah terlalu tinggi akibat terkendalanya pengapalan. Namun alasan tersebut dinilai tidak bisa terus dijadikan pembenaran, karena dampak kerugiannya selalu dibebankan kepada masyarakat kecil.
Warga mempertanyakan keseriusan perusahaan dalam mengelola produksi dan distribusi CPO agar persoalan serupa tidak terus terjadi. Banyak petani merasa hanya dijadikan pelengkap dalam sistem plasma, tetapi ketika masalah muncul, masyarakatlah yang pertama dikorbankan.
“Kami menanam, merawat, dan panen dengan biaya besar. Tapi saat buah siap dijual, perusahaan justru menolak menerima. Kalau begini terus, petani mau hidup bagaimana?” ungkap salah satu warga dengan nada kecewa, pada Jum’at 29 Mei 2026.
Masyarakat mendesak agar pihak perusahaan segera mengambil langkah konkret dan bertanggung jawab terhadap kerugian yang dialami petani plasma.
Warga juga meminta pemerintah daerah turun tangan sebelum persoalan ini memicu gejolak yang lebih besar di tengah masyarakat Kecamatan Burau dan sekitarnya.







