Poso,Reporternews.web.id

Kabupaten Poso kembali menunjukkan wajah baru sebagai daerah yang terus bergerak maju dalam merawat perdamaian dan memperkuat persatuan masyarakat. Semangat tersebut tercermin dalam Dialog Nasional bertajuk “Poso Harmoni dan Tangguh” yang digelar sebagai bagian dari implementasi Program STRIVE (Strengthening Rehabilitation and Reintegration Program and Improving Social Cohesion Against Violent Extremism).

Program yang didukung oleh Global Community Engagement and Resilience Fund (GCERF) dan dilaksanakan oleh konsorsium Nurani Perdamaian Indonesia bersama SKP-HAM sejak tahun 2025 ini menjadi salah satu upaya strategis dalam memperkuat ketahanan sosial masyarakat sekaligus membangun kohesi sosial yang kokoh di Kabupaten Poso.

Kegiatan tersebut sejalan dengan visi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Pemerintah Kabupaten Poso dalam mewujudkan masyarakat yang damai, inklusif, serta memiliki daya tahan yang kuat terhadap berbagai tantangan sosial, termasuk potensi konflik dan pengaruh paham kekerasan.

Melalui pendekatan partisipatif, Program STRIVE melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, komunitas lokal, penyintas konflik, mantan narapidana terorisme (exnapiter), pemerintah daerah, hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya yang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas dan perdamaian di tengah masyarakat.

Beragam kegiatan dilaksanakan untuk mendukung tujuan tersebut, di antaranya dialog multipihak, pelatihan penguatan kapasitas masyarakat, pengembangan Sistem Peringatan Dini dan Respons Cepat Berbasis Komunitas (Early Warning Early Response/EWER), pembentukan Forum Warga Harmoni Tangguh, hingga pendampingan kampung-kampung harmoni dan tangguh di berbagai wilayah Kabupaten Poso.

Seluruh rangkaian program dijalankan dengan mengedepankan prinsip inklusivitas, kolaborasi, dan keterlibatan aktif masyarakat. Dalam program ini, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga didorong menjadi aktor utama dalam membangun harmoni sosial dan mencegah munculnya potensi konflik di lingkungan masing-masing.

Keberhasilan inisiatif tersebut tidak terlepas dari sinergi berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, SKP-HAM, Nurani Perdamaian Indonesia, Densus 88 Antiteror Polri, tokoh agama, organisasi perempuan, komunitas pemuda, akademisi, media, dan berbagai elemen masyarakat lainnya yang memiliki komitmen kuat terhadap perdamaian.

Dalam sambutannya, Ketua SKP-HAM menegaskan bahwa membangun kampung yang harmonis dan tangguh bukan semata menjadi tanggung jawab pemerintah maupun aparat keamanan. Menurutnya, masyarakat dan komunitas merupakan garda terdepan dalam menjaga perdamaian, memperkuat solidaritas sosial, serta merawat nilai-nilai kebersamaan yang telah tumbuh di tengah masyarakat Poso.

“Perdamaian yang kokoh lahir dari keterlibatan masyarakat. Karena itu, seluruh elemen harus terus bergandengan tangan menjaga harmoni, memperkuat persaudaraan, dan mencegah munculnya berbagai potensi konflik di lingkungan masing-masing,” ujarnya.

Berbekal pengalaman panjang menghadapi konflik di masa lalu, Poso kini menjelma menjadi daerah yang terus belajar, bangkit, dan tumbuh. Modal sosial yang dimiliki masyarakat menjadi fondasi kuat untuk membangun masa depan yang lebih damai, inklusif, dan sejahtera.

Melalui Program STRIVE dan berbagai kolaborasi lintas sektor yang terus diperkuat, Poso tidak hanya berupaya menjaga perdamaian yang telah terbangun, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai simbol kebangkitan, harmoni, dan ketahanan sosial yang dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.